Seven Days Comma Part Three

•Juni 22, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Chapter Three, Forest and Hill Area

*shiiing!* Sebuah sinar terang memenuhi sebuah desa.*tap!* Suara langkah kaki mendarat di tanah, Seorang laki-laki dengan sebuah pisau dan perisai di tangannya melihat ke sekelilingnya.

Sheizan.

“Hmm… tempat ini… dimana yaa…” Sheizan melihat ke sekeliling, orang orang berjalan kesana kemari. Dia berdiri ditengah sebuah desa dengan beberapa rumah di sekitarnya.

“Ah, apa anda tuan Sheizan?” Tanya salah satu dari orang orang disekitar dia.

“Ya… ini…”
”Ini adalah desa Kokoto, tuan, tempat anda tinggal sekarang disana, dan anda sekarang adalah…”
”Seorang Hunter… ya? Ahahah… baiklah… aku mengerti apa yang harus kulakukan.” Sheizan memotong kata kata orang tadi, yang mengangguk, mengucapkan salam, lalu pergi lagi. Sheizan lalu berpikir, “Baik, aku sekarang seorang Hunter tipe Blademaster… kalau begitu… harus ambil misi awal…” Sheizan berjalan ke arah seseorang bertubuh pendek yang memegang tongkat didepan sebuah rumah yang tampaknya adalah rumah terbesar di desa itu. Langkahnya mantap, seakan dia sudah setiap hari melakukan hal ini.

“Kepala desa?”
”Ah, tuan Sheizan… dilihat dari langkah dan matamu, kau sudah tahu apa yang harus kaulakukan.”
”Ya… aku… ambil misi itu…” Sheizan lalu menandatangani sebuah kontrak.

*Gathering Quest, Collecting Raw Meat*

“Kau tentu sudah tahu pintu keluarnya.” Kata kepala desa.

“Ya, terimakasih, mohon bantuannya!” Sheizan berjalan ke arah pintu keluar di sebelah selatan desa.

Setelah keluar, dia sampai di sebuah tempat yang cukup tertutup, dengan sebuah tenda, sebuah kotak berwarna merah dan biru, juga sebuah tempat tidur sederhana didalam tenda berwarna kuning yang tampaknya terbuat dari kulit Genprey – monster karnivora yang memiliki racun syaraf di gigi mereka – dan juga sebuah mata air. Sheizan bersiap untuk mencari benda yang perlu dia bawa menurut quest yang dia ambil, 5 buah Raw Meat.

Untuk melakukan hal itu, dia harus membunuh Aptonoth – Herbivora besar dengan ekor yang berat untuk mempertahankan diri – yang berkeliaran disekitar sini untuk mengambil dagingnya. Selain Aptonoth, di daerah Forest dan Hill ini juga terdapat banyak sekali tumbuhan yang bisa dijadikan material kombinasi oleh para hunter. Namun, adakalanya monster yang sangat ganas seperti Rathalos dan Rathian – Versi betina dari Rathalos, perbedaannya terletak di warna dan kebiasaannya, dimana Rathalos terbang saat patroli daerah kekuasaannya, dan Rathian berjalan di tanah, selain itu, Rathian berwarna hijau – muncul di sini.

Dia lalu berjalan ke pintu keluar tempat tertutup itu…

Dan diluar, dia menemui pemandangan yang pernah ia lihat, namun tidak pernah ia jumpai dalam kehidupan nyata sebelumnya. Aptonoth yang sedang merumput, bukit yang dihiasi pepohonan hijau, juga sungai yang airnya sangat jernih.

“Huaaah… segar sekali… di Etheria udaranya jauh berbeda dengan disini…” Sambil berkata seperti itu, Sheizan melihat ke sekelilingnya, dia melihat beberapa Aptonoth yang tampaknya asyik merumput dan tidak memperhatikan dia. Saat itu, sebuah suara muncul didalam kepalanya.

“Sheizan, ini kepala desa, apa kau mengerti apa yang harus kau lakukan?”
”Ya, pak!”

“Baik, aku serahkan semuanya padamu, Chosen Hunter.” Suara kepala desa pun menghilang.

Misi ini memiliki batas waktu 6 jam, kelihatannya memang cukup lama, tapi untuk seorang hunter pemula yang baru pertama kali mengambil quest, mungkin ini bukan hal yang mudah. Beruntung Sheizan sudah tahu apa yang harus dilakukannya, walau begitu, dia memilih untuk mencari bahan bahan yang mungkin bisa dibuat sesuatu di sekitar area itu. Untuk saat ini, hanya Area 1, Area 2, dan Area 3 yang terbuka, jalan ke area lainnya terhalang oleh batu besar. Sheizan bergerak ke Area 3 dimana seingatnya, terdapat jamur langka yang bisa dikombinasikan menjadi Gunpowder.

“Hmm… dimana ya… disini… disini… ah! Ini dia Nitroshroom!” diantara jamur jamur itu, Sheizan mengambil beberapa jamur berwarna merah yang peka terhadap api dan dapat meledak apabila tidak ditangani dengan hati hati. Selain itu, dia mengambil beberapa jenis Herb yang bisa dibuat menjadi Potion dan beberapa jenis Berry yang bisa dibuat peluru untuk senjata jenis Gun Bow, juga sulur tanaman yang cukup kuat untuk dijadikan bahan jebakan monster.

Setelah puas berburu material, saatnya untuk memulai misi utama, yaitu berburu Raw Meat dari Aptonoth, untuk menyelesaikan quest ini, Sheizan membutuhkan lima buah Raw Meat.

Dia menatap ke salah satu Aptonoth, bersiap untuk menyerangnya, Aptonoth itu rupanya sadar, dan mencoba kabur, namun Sheizan menyerang keempat kakinya, sehingga Aptonoth itu terjatuh, setelah beberapa tebasan, akhirnya Aptonoth itu rubuh. Pelan pelan Sheizan mengambil dagingnya, dia berhasil mendapatkan tiga potong Raw Meat dan dua buah Small Monster Bone, salah satu dari berbagai macam material senjata dan armor bagi para hunter.

Dia memutuskan untuk menyerang Aptonoth lain, Aptonoth yang ini memberikan perlawanan, dia menghantamkan ekornya ke Sheizan, yang menahannya dengan tameng lalu balik menerjangnya dan menusuknya, Aptonoth itu meraung, namun Sheizan cepat membuatnya terdiam dengan beberapa tebasan, akhirnya Aptonoth itu pun rubuh, dan Sheizan mendapatkan empat potong Raw Meat dari Aptonoth tersebut.

“Wah, aku tinggal mengirimkan lima, sisanya dua potong bisa kunikmati di desa.”

Untuk menyeleaikan quest pengumpulan barang, seorang Hunter tinggal menaruh barang yang dibutuhkan itu di tempat yang ditentukan, yaitu kotak berwarna merah, setelah ditaruh, otomatis barang itu akan terkirim kembali ke desa untuk diberikan pada orang yang melakukan Request.

Saat menyelesaikan sebuah Quest, seorang Hunter akan mendapatkan sejumlah pembayaran, diantaranya uang (L) dan material buruan.

Kali ini pembayarannya adalah 50 L dan juga beberapa material seperti Mystery Bone, Herb, Antidote Herb, juga Small Monster Bone. Untuk seorang pemula, inin adalah awal yang bagus, dari sebuah perjalanan menuju kejayaan tertinggi seorang Hunter : Sealed Hunters.

Disaat Sheizan sedang beristirahat memikirkan quest selanjutnya, di suatu tempat jauh dari situ, sebuah tempat gelap di ujung sebuah gang kecil, seorang gadis berambut merah sedang dikepung oleh makhluk seperti bayangan dengan topeng aneh. Gadis itu ditemani oleh seorang pemuda berambut hitam dengan jaket yang juga hitam dengan tulisan berikut di lengan baju : S.E.E.S

“Tetap dibelakangku.” Kata si pemuda, gadis itu mengangguk. Si pemuda itu mengeluarkan sebuah Handgun dari sakunya, dan mengarahkan ke kepalanya, lalu…

*BLAMMM!!!!!!!!!!!* pemuda tadi menembak kepalanya sendiri, namun, bukannya pecah, tapi sesuatu keluar dari kepala pemuda tadi.

“Orpheus, Bash!” teriak si pemuda. Sebuah makhluk berbentuk Humanoid yang membawa sejenis harpa, memukul bayangan hitam aneh yang berada didepan si gadis dan si pemuda. Bayangan aneh itu lalu menghilang. Si pemuda yang membawa sebuah pedang di tangan kanannya, lalu memasukkan kembali pedang itu ke sarungnya.

“Hei… kau tidak apa-apa?” tanya si pemuda, gadis itu mengangguk, mereka diterangi cahaya bulan yang berwarna hijau. Lalu, radio milik pemuda tadi berbunyi.

“Arisato-kun, apa kau sudah menemukan dia?” tanya suara perempuan dalam radio tersebut.

“Sudah, Kirijo-san, saya akan langsung membawa dia ke asrama.”
”Baik, cepatlah, mereka bisa menyerang kapan saja.”
”Baik *mematikan radio* Nah, sekarang, ayo, kita berangkat” ajak Arisato, si gadis tampaknya agak tersipu, mukanya merona.

“Siapa namamu?” tanya Arisato.

“A…aku… Alisa…” jawab si gadis.

“Hmm… namaku Minato Arisato, senang berkenalan denganmu.” Alisa tampak kebingungan mendengar jawaban itu.

“A…aku juga…” Minato tidak tahu, kalau di dunianya, Alisa sangat senang tiap kali melihat Minato Arisato.

“Ayo, sebelum mereka muncul lagi!” ajak Minato.

“Ya!” Merekapun meninggalkan tempat itu.

End of Chapter Three

Iklan

Seven Days Comma Part Two

•Juni 22, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Chapter Two, In the Comma

Sheizan bangun, dia ada ditengah pulau di angkasa yang tidak diketahuinya berada dimana, disekitarnya, anggota Grace dan juga Sheila terbaring. Sheizan melihat ke sekitar, mencari tanda tanda apapun yang bisa dia temukan di dekat situ. Baju Sheizan, dan teman temannya sudah berubah, dia hanya menemukan sebuah pisau di pinggangnya.. Disekitar tempat itu, dia hanya menemukan sebuah jembatan kayu yang cukup lebar, dan ada seseorang yang menjaga disana, perlahan-lahan, dia merasa dia pernah ke tempat ini, namun dia lupa, dimana pernah dia menemui tempat seperti ini, dia lalu berjalan kearah orang yang sedang berdiri menjaga jembatan. Seorang perempuan, tinggi, berseragam coklat, dengan topi tinggi berwarna coklat layaknya seorang penjaga di suatu tempat yang pernah didatangi Sheizan, namun entah dimana, rambutnya ungu panjang, begitupun dengan warna matanya, dia membawa sebuah tombak dari kayu berujung besi tajam. Sheizan refleks bertanya pada orang itu.

“Ini… tempat apa…?” tanya Sheizan, masih kebingungan ditambah panik karena teman temannya dan adiknya belum sadarkan diri.

“Menurut anda, ini tempat apa?”

“Kumohon, jawab, aku harus tahu ini dimana, dimana aku bisa membawa mereka untuk dirawat, kumohon!”

“Mereka akan bangun, tunggulah.”

“TAPI!” Sheizan terhenti
”Saya mohon anda bisa tenang, tuan. Saya bisa jamin mereka tidak apa apa.”

“…” Sheizan diam sebentar, lalu melanjutkan kata katanya.

“Kalau begitu, kuminta pertanggungjawabanmu apabila sesuatu terjadi pada mereka.”

“Baik, tuan” jawab si penjaga sambil membungkuk.

Sheizan lalu duduk disamping jembatan. Sambil mengingat-ingat kapan dia pernah melihat tempat ini, dia melihat-lihat ke sekitar, berpikir apa yang pernah terjadi ketika dia melihat tempat ini…

*!*

Sesuatu kembali muncul di permukaan ingatannya. Sesuatu yang dulu, sangat jelas di pikirannya. Dia berdiri, lalu bertanya pada si penjaga.

“Kau… tempat ini… jangan jangan…”
”Ya, tuan?”
”Tempat ini… oh!?”
”…Ternyata anda ingat, syukurlah.” Tiba-tiba, Drew dan Zeta terbangun, yang lainnya pun satu persatu terbangun, termasuk Sheila. Sampai akhirnya semuanya bangun dalam keadaan bingung.

“Ini dimana?” tanya Aurora pada Akari, yang menggeleng tanda tidak tahu. Mereka lalu ribut, terutama karena mereka semua, dan Sheila, bisa berkumpul semuanya disana.

“Kalian semua, tenang, kumohon.”
”Sheizan, kita ada dimana??” tanya Alisa.

“Kita semua… orang dibelakangku ini yang akan menjelaskan.” Kata Sheizan sambil menunjuk si penjaga.

Mereka berdiri dalam setengah lingkaran, melingkari si penjaga.

“Baik, pertama, selamat siang, semua!” Beberapa menjawab ‘siang’, beberapa lainnya tidak menjawab, mereka bingung dan takut.

“Baik, pertama, saya yakin kalian semua sedang bingung sedang dimana, jadi, pertama-tama, saya akan menjelaskan tentang tempat ini.” Para anggota Grace mendengarkan.

“Pertama, tempat ini, adalah sebuah tempat latihan awal bagi mereka yang ‘memulai’, mungkin salah satu dari anda tahu?”
”Ah… jadi benar…” kata Sheizan pelan.

“Ya… akan kujelaskan mulai disini…”
”Tempat ini…” si penjaga berhenti sebentar, lalu meneruskan kata-katanya.

“Sampai ‘mereka’ tiba…”
”’Mereka’?” tanya Sheizan.

“Apa salah satu dari kalian… tahu tentang Persona?” tanya si penjaga.

“Aku tahu!! Itu kan…” melihat wajah si penjaga, Mina terdiam.

“Lalu apa ada yang tahu tentang… Kingdom Hearts?”

“Aku tahu…” jawab Sheizan.

“Baik, tentu kalian tahu tentang Heartless, Nobody, dan Shadow, kan… sekarang, mereka mengacau-balaukan dunia kami.”

“Tunggu, mengacau-balaukan?”

“Bukan hanya dunia kami…” Suaranya mulai bergetar.

“Mereka… menyebabkan… SELURUH DUNIA KACAU!!” si penjaga berteriak histeris.

Para anggota Grace tersentak, mereka berkeringat hanya oleh kata-kata si penjaga.

“*hosh…hosh*… Maaf… saya mungkin menakuti kalian… maafkan saya…nah, sekarang… Dunia ini dikenal dengan nama ‘Comma’”

“Benar-benar kacau?” tanya Sheizan lagi.

“Ya, tuan, dan kalianlah yang terpilih untuk mengalahkan semua kekuatan jahat ini dan menghilangkan kekacauan ini.”

“Kenapa kami? Kenapa tidak yang lain saja? Apa ledakan di Lament juga perbuatan kalian?” tanya Camellia.

“Kejadian di dunia kalian bukanlah hal yang kami lakukan, itu semua berdasarkan Hitsuzen.” Kata penjaga.

“Hitsuzen? Apa itu berarti…” Kata-kata Mina terhenti

“Anda akan tahu. Satu lagi, anda semua akan diberi kesempatan bertanya setelah ini.”

“Sudahlah, ayo kita masuk saja!” ajak Drew, akhirnya, mereka semua masuk ke dalam bangunan di belakang jembatan yang dijaga si penjaga.

Didalam, mereka semua bertemu seorang laki-laki berpakaian kemeja coklat, dengan nametag bertuliskan “Tom”.

“Selamat datang, apa anda sekalian akan mengambil pelatihan? Atau anda ingin langsung dikirim ke sebuah kota secara acak? Atau anda hanya ingin mengobrol dengan saya?”
”Pilihan pertama, atau ada yang mau langsung dikirim?” Tanya Sheizan, semua menggeleng.

“Eh, sebelum itu, satu pertanyaan dariku.” Kata Sheizan.

“Dan apakah itu?” tanya Tom.

“Kenapa dunia ini?” tanya Sheizan, manggut-manggut, yang lain tampak agak kebingungan.
”Ah, itu karena… sepertinya anda sudah familiar dengan dunia ini.

“Ah… begitu…”

“Ya… dan… setahu saya dunia anda banyak dipengaruhi oleh ‘dunia ini’” Selain Drew dan Sheizan, yang lain terheran-heran.
”Benar juga… dari tadi aku heran, sekarang aku mengerti. Baik, sekarang, kirimkan kami!” Dalam sekejap, mereka berada di sebuah ruangan dengan meja meja dan orang di belakangnya, seperti tempat mendaftar sesuatu. Tanpa basa-basi, orang berdiri di belakang meja tengah menyapa mereka semua.

“Hai semua! Namaku adalah Leo von Frisch! Aku adalah orang yang akan memandu kalian semua! Pertama! *Bla bla bla*” dan Leo pun melanjutkan penjelasannya hingga berlarut-larut. Sheizan langsung bertanya pada yang lain.

“Hei, siapa yang sudah mengerti akhir penjelasan ini selain aku?” Drew, Nanako,Rena dan Sheila angkat tangan.

“Baik, kita pandu mereka melewati tes ini hingga selesai.” Akhirnya, Sheizan, Drew, Nanako, Rena dan Sheila memandu mereka hingga tes melawan monster, di tes itupun mereka berhasil dengan baik, hingga akhirnya mereka mencapai tahap tes tertulis terakhir yang menentukan kemana mereka akan dikirim. Tes itu berjalan selama 90 menit, dan setelah mereka selesai tes, penguji memberitahu mereka untuk menunggu 10 menit. Mereka mulai mengobrol

“Eh, bagaimana tes nya tadi?”
”Aku tidak tahu, kuharap aku berhasil”

“Tenang saja, tidak ada yang tidak berhasil dalam tes ini, kecuali dia tidak mengerti dasar untuk menyerang monster, memakai skill, dan bertransaksi, dan kurasa kalian semua menguasainya.”

10 menit kemudian…

“Baik, ini adalah hasil tes kalian, kalian bisa membawanya, setelah 15 menit, kalian akan dikirim ke kota yang disarankan untuk kalian!”
”Hmm… kalian semua… kurasa ini saatnya berpisah… untuk sekarang…” kata Sheizan.

“Hhh… haruskah… kita berpisah?” tanya Teletha.
”Kurasa, untuk sementara saja…bagaimana kalau kita meneriakkan yel ekskul kita?” Sheizan mengusulkan

“Ya!” Semuanya menjawab serentak. Zeta menghitung aba-abanya.

“Baik, satu, dua, tiga!”
”GRACE, FOR OUR FRIENDSHIP FOREVER!!” Semuanya berteriak bersama. Setelah itu, mereka mengucapkan salam perpisahan satu dengan yang lainnya. Sheizan mendekati Sheila, yang tampaknya menitikkan air mata.

“Sheila… kita masih bisa bertemu lagi…”
”Ta..tapi kak… kalau aku ternyata… *hiks* ma…” Sheizan menutup mulut Sheila, lalu memeluknya erat.

“Sayang… jangan berpikiran yang tidak tidak… kita semua akan selamat… mengerti?”

Tiba tiba, si penjaga berlari ke dalam ruangan.

“Semua, tolong dengarkan!” Semuanya menoleh ke arah si penjaga.

“Aku lupa memberitahu satu hal lagi… sebelum kalian pergi…”
”Dan apa itu?” tanya Mina.

“Kalian semua… ah, tidak.” Si penjaga menghentikan kalimatnya, dan tersenyum lembut pada mereka semua, lalu mengatakan satu hal terakhir…

“Semuanya, saatnya kalian dikirim ke kota yang disarankan untuk kalian!” kata si pengetes. Satu per satu, mereka hilang ditelan cahaya, mereka yang belum hilang, saling berpandangan.Hingga akhirnya, mereka semua, hilang semuanya dari tempat itu…

End of Chapter Two

Seven Days Comma part One

•Mei 4, 2009 • 1 Komentar

Accident at the town of Etheria

Sabtu, 11 Juli 2010

Libur akhir semester telah dimulai untuk para siswa SMA di Negara Elenesia. Kali ini, tempatnya adalah di Kota Etheria, kota yang terletak di dataran tinggi, dan dikelilingi banyak bukit. Kota ini berbentuk seperti sebuah danau, disebut-sebut kalau dahulu kota ini adalah sebuah danau purba, sebelum airnya mengering. Terdapat dua buah gunung berapi di Utara dan Selatan kota ini, yaitu gunung Tales Prominence di utara, dan gunung Majesty di selatan. Kebanyakan memilih untuk pergi keluar kota, ada juga yang hanya berlibur didalam kota, namun ada juga yang hanya malas-malasan didalam rumah untuk bermain game. Salah satunya adalah Sheizan, anak SMA biasa yang baru naik ke kelas 3, seperti layaknya liburan, dia mengisi waktunya dengan bermain. Sheizan adalah seorang yang cukup berpengalaman dalam game, dari awal munculnya Game Online di negaranya hingga sekarang, dia telah bermain banyak game online. Saat ini dia sedang memainkan RF Online, game yang satu ini, sama seperti kebanyakan game di negaranya, telah dicemari oleh cheat yang merajalela. Tapi saat ini, dia sedang berkumpul di luar gerbang sekolahnya bersama teman temannya yang satu ekskul dengannya. Sheizan juga ditemani adiknya yang baru saja libur setelah menjalani UN SMP, Sheila, yang rambutnya hitam pendek dan bermata hitam kecoklatan.

“Shei bersaudara!” panggil 2 orang gadis pada Sheizan dan Sheila, mereka dipanggil Shei bersaudara karena nama mereka sama sama bisa dipanggil Shei. Dua orang gadis yang memanggil mereka, satu berambut merah cerah pendek, dan satu berambut biru gelap panjang.

Mina dan Alisa.

“Mina, Alisa!” sapa Sheizan, ekskul Sheizan, Grace, yang adalah ekskul bagi mereka penggemar kebudayaan, lebih banyak di dominasi oleh para perempuan di angkatannya. Di angkatan Sheizan, Angkatan 11, dari 22 anggota ekskul, hanya 3 orang yang merupakan laki-laki, sisanya perempuan. Bahkan salah satu dari para laki-laki, ada seorang yang mendapatkan beasiswa untuk belajar diluar negeri, sehingga tinggal dua orang sajalah laki-laki yang ada di ekskul itu…

“Hei! Dari sini kita kemana?” Selain Mina dan Alisa, yang lainnya juga sudah berkumpul.

“Kita dari sini ke Lament, ada barang yang mau dicari sama Luna” Luna juga teman ekskul Sheizan, rambutnya coklat dan diikat ekor kuda dengan pita hijau. Kalau dilihat, hanya beberapa dari seluruh anggota ekskul yang datang, bahkan Zeta, satu satunya laki laki selain Sheizan di Grace, juga tidak datang.

“Jadi hanya segini yang datang… baik, semua, kapan berangkat?”

“Tunggu dulu dong! Kita masih menunggu yang lain” Akhirnya, beberapa dari mereka memilih untuk duduk di dekat situ dan mulai membaca manga, Sheizan juga duduk disamping Sheila.

“Nii-san, panas ya…”
”Ya… Etheria semakin panas… padahal saat kita SD, Etheria masih dingin sekali…”

Setengah jam kemudian…

“Hei, ayo, udah semua disini, Sephia tidak bisa datang, Risa ada urusan keluarga, Zeta ada les, lalu Maria dan Aya tidak datang seperti biasa.” kata Luna, Aya dan Maria adalah 2 orang anggota Grace yang saat pengesahan tidak ikut, walau mereka diterima, mereka jarang datang karena mereka sepertinya tidak yakin mereka diterima.

“Ayo semua, berangkat!” ajak Sienna.

Kami semua pun berangkat ke Lament, Mall ini adalah salah satu mall terbesar di kota kami. Tempat ini terletak di jalan Freedom, salah satu jalan paling ramai yang adalah sebuah jalan one way, didepan Lament, ada toko buku 3 lantai yaitu toko buku Remedy, yang cukup terkenal di kota kami. Mall ini terdiri atas 5 lantai yang penuh dengan toko-toko berisi macam-macam barang, dan belum termasuk 2 basement dibawahnya..

Kamipun sampai di Lament, tempat yang kami tuju adalah lantai 3, disana ada macam macam pernak pernik perempuan.(terutama karena 95% anggota Grace yang hanya ada 21 orang, adalah perempuan.)

“Zeta, bagaimana kalau kita ke lantai lain… sambil melihat hal hal lain disini…?” tanya Sheizan.

“Kau duluan saja, Sheiz, aku menemani yang lain”

“Kalau begitu, tolong jaga Sheila juga ya!”
”Ya, tentu!” jawab Zeta, lalu aku katakan ke Sheila kalau aku mau mencari sesuatu.

“Sheila, kakak mau ke lantai lain, ada yang kakak cari.”
”Oh, iya kak!” jawab Sheila, sambil tersenyum, Sheizan meninggalkan adiknya, dia lalu menuju elevator.

Sesampainya di lantai atas, kakinya seolah sudah tahu kemana harus bergerak, dia mulai berbelok ke kanan, berjalan lurus melewati toko toko yang memajang baju baju baru yang diantaranya bertuliskan “Diskon 20%!”

Akhirnya kakinya berhenti di depan sebuah toko, didalam toko itu, banyak sekali terpampang DVD dan Console Console – sebuah toko game – kebetulan sedang ada game yang ingin dia beli, namun… tepat saat dia melangkah kedalam toko…

*BLAMMMMMMMMMMMM!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!*

Suara ledakan keras terdengar dari lantai tepat dibawahnya, orang orang berlarian, beberapa terpental, mereka berdesakan mencari jalan keluar, panik, berlarian bagai semut yang tengah berpindah sarang, namun di kepala Sheizan hanya ada satu yang diingatnya : Teman-teman dan adiknya di lantai bawah. Dia lalu berlari, tidak peduli apabila dia menabrak orang lain ataupun ditabrak, dia tidak peduli kakinya diinjak atau kakinya menginjak orang lain, yang dia sadari hanyalah bahwa teman temannya dan adiknya dalam bahaya, terutama karena mereka ada di lantai tempat bom tadi meledak.

Sheizan tanpa sadar menuruni elevator yang rusak. Dia segera menuju toko dimana teman temannya sedang melihat lihat tadi, toko itu terbakar, dia melihat ke sekitar, beberapa temannya sedang terbaring di lantai. Dia bingung harus berbuat apa, saat itu pula, dilihatnya masih ada satu temannya yang berdiri.

“ZETA!” Zeta masih berdiri, memapah Vienna, salah satu anggota ekskul yang bertubuh pendek dengan rambut hijau muda.

“Sheiz… yang lain… diluar… sebagian… pingsan… adikmu… dia… didalam…” Zeta lalu ikut tersungkur, membawa Vienna yang dia papah ikut tersungkur bersamanya. Sheizan tanpa sadar berlari ke arah api yang membara, pikirannya mengatakan jangan, tetapi pikiran bawah sadarnya dan hatinya mengatakan untuk menyelamatkan adiknya. Zeta memperingatkannya, namun terlambat.

“SHEIZ, JANGAN! KAU AKAN…” Zeta yang kelelahan ikut pingsan bersama yang lainnya. Sekarang Sheizan sudah masuk dalam toko yang terbakar, sekarang yang terdengar hanyalah suara api yang membakar segala hal disekitarnya. Sambil menahan api yang ada di sekelilingnya, sayup sayup Sheizan mendengar suara adiknya.

“Panas… sakit…” suaranya begitu lemah, tak berdaya, seakan tidak sanggup bertahan sama sekali.

Sheizan langsung berlari ke sumber suara, dia tidak peduli apa tangannya terbakar atau kulitnya melepuh, dia ingin menyelamatkan adiknya, apapun caranya. Samar samar terlihat sebuah bayangan, adiknya sedang terduduk di lantai, nafasnya tersengal, tidak kuat menghisap terlalu banyak asap.

“SHEILA!” Air muka Sheila berubah seketika saat melihat kakaknya datang untuk menyelamatkannya. Sinar matanya yang tadi redup kembali muncul, Sheizan lantas memeluknya.

“Nii-san…”
”Aku tahu, sayang, kakak akan menemanimu disini”
”Uhh…” Sheila pingsan di pelukan kakaknya.

“SHEILA, SHEILA, BANGUN! SHEILA!” Sheizan panik, walau dia tahu ini akan menyulitkannya, tapi dia tidak bisa mengendalikan dirinya, tidak dengan adiknya yang sedang sekarat di pangkuannya.

“Sheila… kakak… akan membawamu… keluar dari sini!” Sheizan lalu menggendong Sheila, dan tanpa berpikir apapun, menerobos api yang membara di depannya, namun saat di dekat pintu keluar, dua buah lemari yang tampaknya terjatuh saat ledakan menghalanginya, namun dia, dengan keselamatan adiknya dipertaruhkan, berhasil melewati tempat itu dan keluar.

Minggu, 12 Juli 2010

Sheizan, adiknya, dan semua teman ekskulnya, terbaring di ruang UGD Blue Sky Hospital, salah satu rumah sakit di Etheria yang terletak di jalan Daleheart.

Ledakan kemarin ternyata terjadi karena sebuah tabung gas di Lament Food Court, yang terletak di lantai 3, meledak, dan menyebabkan tabung gas lain ikut meledak dan menyebabkan efek ledakan beruntun yang diperparah karena terdapat banyak barang yang rentan terbakar di lantai itu, yaitu baju dan celana.

Dokter sudah memeriksa semua anggota Grace, dan juga para korban lain, yang jumlahnya relatif banyak karena saat itu jam makan siang bagi mereka yang bekerja dan juga banyak yang berlibur dan memilih untuk pergi ke Lament. Menurut dokter, luka yang paling parah diderita anggota Grace, yang berada di toko terdekat dengan gas yang meledak beruntun, dan para koki dan pekerja Food Court, yang (tentu saja) sangat dekat dengan gas yang meledak tersebut. Diperkirakan jumlah korban jiwa mencapai ratusan, dengan korban luka mencapai lebih dari seribu orang, dengan kerugian sebesar 10 milyar Nesia, mata uang negara itu.

Bagi kebanyakan orang, ini adalah salah satu musibah terbesar di kota itu, terakhir kalinya kerugian sebesar itu terjadi adalah saat Etheria Great Flood, dimana para pejuang kemerdekaan Elenesia di Etheria membuka semua kanal air dan membuat kota banjir selama 7 hari dan membuat semua infrastruktur tidak bisa digunakan selama tiga bulan oleh para penjajah sebelum meninggalkan kota. Namun, bagi para anggota Grace yang terkena ledakan saat itu, mereka tidak tahu kalau Maria, Aya, Risa, dan Sephia, yang tidak ikut saat itu, juga tiba tiba pingsan dengan sebab yang misterius, lalu, Drew, anggota yang meninggalkan Grace di kelas 1 (dan laki-laki ketiga di Grace) karena mengejar pendidikan di negara tetangga pun, pingsan dengan sebab yang misterius. Ke-22 anggota Grace, ditambah Sheila,  tidak tahu, kalau ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar… dan juga… takdir mereka…

End of Chapter One

Seven Days Comma, Prologue

•Februari 6, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ah… diwaktu luang saya… nulis ah… dan jadinya awalnya seperti ini… huhu…

—————————————————————————————-

… 18 Oktober 2010…

Seorang pemuda berambut hitam acak acakan, duduk di kamarnya, kedua matanya menatap kearah jendela, menatap langit jingga yang diterangi sinar matahari yang akan tenggelam di ufuk barat. *tok tok* Terdengar ketukan di pintu kamar pemuda tadi.

“Nii-san, ini aku” terdengar suara seorang perempuan. Nii-san adalah panggilan akrab untuk kakak dalam salah satu bahasa asing.

“Sheila ya? Masuk.” Kata si pemuda. Perempuan tadi pun masuk, dia gadis yang masih muda, kira kira umurnya 15 tahun, rambutnya putih salju hingga siku, mengkilap diterangi sinar matahari, mata kanannya berwarna merah cerah, namun mata kirinya berwarna biru muda.

“Nii-san… ada tamu mencari nii-san…”

“…Siapa?”

“Mi…Mina onee-san…” *hening sesaat* Onee-san adalah panggilan untuk kakak perempuan dalam bahasa yang sama dengan Nii-san

“Mina datang kesini? Tidak biasanya… baiklah, aku akan segera kesana, suruh dia duduk dulu.”

“I…iya!” Sheila buru buru keluar. Pemuda yang berumur kira kira 17 tahun tadi mengambil topinya yang berwarna hitam, lalu keluar ke ruang tamunya yang dihiasi dengan berbagai artefak dan senjata jaman pertengahan seperti pedang dan tombak. Disitu duduk seorang gadis berambut merah cerah dengan rambut pendek sebahu yang tampak sebaya dengan si pemuda di seberang Sheila, gadis itu lalu berdiri melihat pemuda tadi datang. Pemuda tadi menyapa si gadis

“Hai, Mina, lama tak berjumpa, ya..?” Mina lalu menghampiri pemuda tadi dan menarik kerah bajunya

“Jadi… selama ini… KAU DIAM DI TEMPAT INI TANPA PEDULI HAL YANG TERJADI DI SEKITARMU?” Bentak Mina ke pemuda tadi.

“APA KAU TAHU BANYAK ORANG DISANA YANG MEMBUTUHKAN KAU?” Bentak Mina lagi.

“Aku tahu..”

“LALU KENAPA KAU TIDAK BERTINDAK? PADAHAL KAU TAHU APA YANG TERJADI”

“Tenangkan dirimu dulu… kumohon… duduklah dulu…” *teng….teng* Saat itu bel pintu berbunyi. Sheila membuka pintu, didepan pintu, seorang gadis berambut biru gelap panjang hingga ke pinggangnya, matanya biru cerah, namun dia tampak kaget saat melihat orang orang sudah berkumpul di ruang depan.

“Alisa!? Kau… mau apa kemari?!” tanya Mina segera. Gadis yang bernama Alisa tadi kaget, lalu membalas Mina.

“Apa salahnya!? Aku juga…!” kata-kata dipotong Sheizan, Mina lalu diam.

“Mina, Alisa! Kalian ingat perjanjian yang kalian buat di “sana”, kan?” nada pemuda itu tiba tiba menjadi rendah dan menggelegar. Tampak ketakutan di raut wajah Sheila.

“Sheizan nii-san…” Sheizan tersentak, lalu kembali ke suaranya sebelumnya.

“Ah… Sheila… maaf… kakak tidak sadar… Alisa, Mina, duduk.” Tanpa diperintah kedua kali, keduanya duduk berdampingan, mereka saling meminta maaf.

“Alisa… maaf… tadi aku sedang marah ke Sheiz…, aku tidak sadar.”

“Ti… tidak apa apa, Mina, kejadian akhir akhir ini aku yakin membuat kita semua gila” keadaan hening sementara. Sheizan lalu memulai pembicaraan.

“Sejak kejadian ‘itu’ ya? Ahaha… kurasa memang dunia berubah sejak kejadian ‘itu’ ya…”

“Ya… kejadian ‘itu’ memang…” tiba tiba… *BRAKK* Suara seperti hantaman benda keras terjadi di luar.

“Itu!” teriak Sheila, yang lalu keluar. Semuanya lalu keluar. Diluar…

“Unit 06 dan 08 sampai di target, target terlihat, bersiap menghancurkan target” dua orang Bellatian bersenjatakan Sickle Knife dan Solid Hora Shield menunggangi Grand Peco…

“Hmm… Turncoat Rider ya… menarik *tringg* sudah lama aku tidak melihat kalian…” Sheizan menghunus sebuah Lance berwarna putih di tangan kanannya dan sebuah Zanpakuto berwarna merah di tangan kirinya. Sheila mengeluarkan sebuah tongkat berwarna putih dengan sebuah batu berwarna pelangi di atasnya. Mina meregang sebuah busur berwarna hijau dengan ukiran seekor naga, dan Alisa mengkokang dua buah Dual Wield Gun berwarna hitam.

“Sudah lama tidak menggunakan kalian berdua, eh? Gekkou Chou? Akai Suzu?” kata Sheizan. Saat mereka mengatur formasi, muncul 2 buah bayangan aneh di belakang kedua Turncoat Rider. Salah satunya muncul ke permukaan dan berwarna hitam, dan lainnya berwarna putih.

“Ah…Neoshadow dan Assassin Nobody… jadi kalian bisa kesini karena bantuan Heartless dan Nobody? Aku mengerti sekarang… Sudah dimulai ya…? Kalau begitu… aku harus serius…Shikai…berdentanglah, Akai Suzu…”

Dalam beberapa saat, kedua Turncoat, Heartless, dan Nobody itu sudah tersungkur, lalu mereka menghilang menjadi asap.

“Kalian berdua…” panggil Sheizan pada Mina dan Alisa.

“Umm…?” jawab mereka berdua.

“Kalian… masih pacarku… kan?”

“Sheiz… hal seperti itu tidak usah ditanyakan lagi kan?” jawab Alisa.

“Huh, waktu itu kau kan yang memutuskan… tentu saja!” jawab Mina.

“Lalu yang lainnya juga masih denganku, kan?” tanya Sheizan, Mina dan Alisa saling pandang.

“Aku tidak yakin, tapi kami rasa iya, begitu juga dengan ‘mereka berdua’” jawab Mina, Alisa mengiyakan.

“Umm… nii-san… onee-san…”

“Ada apa, Sheila?” tanya Sheizan. Sheila menunjuk ke belakang Sheizan, Mina, dan Alisa, mereka berbalik dan melihat Rathalos, seekor naga berwarna merah yang memiliki ekor berat, berduri, dan beracun, dan juga seekor Felbeast, monster yang memiliki raungan yang mampu memecahkan gendang telinga manusia, bersama beratus ratus Heartless – makhluk tidak memiliki akal dan pikiran, hanya bergerak dengan insting mereka mencari hati dari makhluk hidup – , Shadow – makhluk dari kegelapan yang hanya muncul saat Kage Jikan atau Dark Hour – , dan Nobody – makhluk berwarna putih dengan emblem, mereka memiliki akal dan juga pikiran, dan berburu hati mereka yang hilang – , juga tentara dari Orochi – sering disebut The Serpent King, Orochi adalah dewa perang yang berasal dari neraka, tentara iblis yang menyapu semua hal yang ada di hadapan mereka bagai ombak kegelapan – .

“…Ini akan butuh… sedikit kerja ekstra…” mereka berempat menyiapkan senjata mereka sekali lagi, lalu menerjang semuanya…

Ingin tahu bagaimana ini semua bermula?

Publisher Game online PT. Lyto Datarindo Fortuna cuci tangan dalam masalah teknis di game-nya

•Mei 21, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hallo, all. Mungkin bagi yang belum pernah main game online, hal seperti ini tidak terlalu masalah, tapi bagi orang yang hobi dan serius bermain game, terutama game online, hal ini sangat mengganggu.

Kejadiannya tanggal 17 Mei 2008, dari sekitar jam 12 siang sampai sekitar jam 4 sore (berarti kurang lebih 4 – 5 jam) , terjadi gangguan di salah server game RF Online (Rising Force online, www.rf-online.web.id) , yaitu server Lunar.

Bug tersebut memungkinkan player menjual barangnya dan mendapat uang game, lalu logout dan ketika login lagi, barang masih ada dan uang game-nya masih ada.

Akhirnya, bug tersebut di manfaatkan oleh sebagian player untuk mencetak duit sehingga 1 player bisa mendapatkan lebih dari 200 milyar uang game. Sekedar info, dalam keadaan normal, orang yang megang 100 juta uang game sudah terbilang kaya.

Dan bukan itu saja, barang-barang yang ada di fasilitas lelang game tersebut langsung diborong habis dengan duit hasil bug tersebut. Akhirnya, sesuai dengan hukum ekonomi, harga barang menjadi hancur (sistem ekonomi dalam game tersebut mirip dengan sistem ekonomi dunia nyata), inflasi melambung tinggi. Contohnya, harga barang yang tadinya hanya 4 juta melambung jadi 40 -50 juta. Bahkan ada barang yang harga normal 30 juta menjadi 500 juta – 1 milyar (anda bisa bayangkan kalau dunia nyata, itu akan seperti apa). Dalam sekejap, muncul player-player ‘dewa dadakan’.

Karena bug ini adalah kesalahan sistem game yang dibawahi PT. Lyto Datarindo Fortuna, maka seharusnya, PT. Lyto Datarindo Fortuna meng-offlinekan server-nya dengan segera, merollback semua kembali ke sebelum bug terjadi dan memberikan sedikit kompensasi (entah berupa duit game, atau experience tambahan). Tapi, itu tidak dilakukan, entah kenapa PT. Lyto Datarindo Fortuna tidak mengambil tindakan apapun. Game menjadi kacau dan banyak player pensiun.

Banyak player server tersebut sudah berusaha meminta PT. Lyto Datarindo Fortuna untuk merollback seperti sedia kala. Ada yang langsung datang, telepon, lewat email, mengumpulkan petisi, dsb. Tapi itu tidak digubris sama sekali. PT. Lyto Datarindo Fortuna sama sekali tidak melakukan apapun. Tidak merollback, tidak menghukum, tidak berusaha menstabilkan harga barang, tidak ada!!

Game online juga punya komunitas sendiri, sama seperti kaskus yang punya komunitas sendiri. Game online juga membutuhkan duit yang tidak sedikit.

Meski judulnya free to play, tapi secara langsung dan tidak langsung, player digiring untuk membeli voucher mereka. Tidak sedikit yang sudah mengeluarkan duit hingga jutaan, menghabiskan waktu untuk bermain game ini, tapi PT. Lyto Datarindo Fortuna sama sekali tidak menghormati para player tersebut karena berpikir ‘its just a game’.

Menurut saya, it’s not just a game, it’s a business, a god damn professional business. And not an ordinary business, it’s a community. Banyak dari kami yang mengeluarkan duit banyak dan secara berkala. Jadi, sebagai konsumen, kami seharusnya layak mendapatkan perlakuan yang tepat. Kami bermain bukan hanya untuk iseng, tapi kami mencari komunitas, sama seperti orang-orang posting di kaskus. Dan komunitas tersebut hancur sekarang

Selama ini, game tersebut sering banyak bug dan cheater. Kadang, dalam sehari, server game bisa off (disconnect) lebih dari 5 kali dalam sehari. Anda bisa bayangkan, bagaimana rasanya jika kaskus off lebih dari 5 kali sehari? Tapi kami tetep bisa menerima kekurangan game tersebut karena ini adalah komunitas sosial bagi kami. Tetapi kejadian ini adalah puncak dari kecacatan game tersebut dan PT. Lyto Datarindo Fortuna sama sekali tidak melakukan apa-apa!

Sekarang, orang-orang yang tidak ikut ngebug (sekarang, bug tersebut tidak bisa) dan player pemula hanya bisa merana karena harga barang tersebut sudah diluar jangkauan mereka. Dan player-player yang selama ini bekerja keras dan mengeluarkan uang tidak sedikit untuk membangun karakter mereka hanya bisa gigit jari melihat ‘dewa dadakan’. Komunitas RF Lunar menjadi rusak

PT. Lyto Datarindo Fortuna mempublish beberapa game online, RF Online, Seal, Ragnarok Online, Getamped dan (sebentar lagi) Perfect World serta  Idol Street.

Jika anda orang yang hobi game, jangan coba-coba bermain game PT. Lyto Datarindo Fortuna. Publisher tersebut sangat tidak bertanggung jawab dan hanya berpikiran untuk menyerap uang anda. Jika anda mempunyai anak berumur SD sampai kuliah, hati-hati dan awasi anak anda. Siapa tau, anak anda sudah membuang duit dan waktu sedemikian banyak hanya demi game online dari PT. Lyto Datarindo Fortuna tersebut.

Mungkin bahkan duit yang seharusnya bukan untuk game online (misalnya, uang sekolah/kuliah). Dan hati-hati saja, siapa tau anak anda membolos hanya demi main game online tersebut.

Ini adalah petisi online untuk game tersebut.
http://www.petitiononline.com/RFOIC1/petition.html
Mohon bagi anda yang setuju dengan pendapat saya, bisa mengisi-nya barang sejenak

Akhirnya!

•Maret 13, 2008 • 2 Komentar

Dengan ini, jadilah akhirnya Blog pertama saya…

Pertama tama, saya panjatkan puji syukur pada Tuhan yang maha esa… atas terciptanya Blog ini…

Kedua, Saya ucapkan terima kasih juga pada Mihael D.B Ellinsworth dari Chaosregion yang sering membantu saya

Saya tidak terlalu berharap, tapi, kalau bolehlah saya berharap, saya ingin blog ini, setidaknya, diketahui oleh senior senior yang ada disini. Tak apa kalau tak diperhatikan, setidaknya, diketahui.

Sekian rupanya kata kata dari saya, terima kasih.